Kontribusi Asuransi Syariah Bagi Perekonomian Nasional

Sektor perasuransian syariah mencatat pertumbuhan yang cukup signifikan dalam 5 (lima) tahun terakhir. Dari sisi aset, industri asuransi syariah tumbuh 25,07 %, tumbuh dari Rp13,2 triliun pada tahun 2012 menjadi Rp. 40,5 triliun pada 2017. Sedangkan dari sisi jumlah pelaku, industri asuransi syariah tumbuh dari 45 pelaku pada 2012, menjadi 63 pelaku industri pada akhir 2017.

Dua pertanyaan yang ingin dijawab dalam tulisan ini adalah, apa makna dari pertumbuhan tersebut, dan apa relevansinya dengan perekonomian nasional?

Di dalam ruang lingkup industri keuangan non bank (IKNB) syariah, industri asuransi syariah merupakan sektor industri dengan proporsi aset yang paling besar. Total aset asuransi syariah mencapai 40 % dari total aset IKNB Syariah. Dengan semakin bertumbuhnya aset asuransi syariah, menunjukkan bahwa penerimaan, kepercayaan dan penggunaan produk asuransi syariah oleh masyarakat semakin meningkat.

Dalam perspektif yang lebih luas, semakin banyak masyarakat yang menggunakan produk asuransi syariah mengandung makna bahwa semakin banyak masyarakat yang memiliki instrumen proteksi finansial. Dengan demikian, daya tahan finansial masyarakat semakin kuat. Apabila terjadi sesuatu yang tidak terduga yang menimpa diri peserta asuransi syariah, potensi untuk melakukan recovery ekonomi akan lebih mudah dan lebih cepat. Hal ini penting untuk menjadi pemahaman masyarakat luas mengingat mempersiapkan kebutuhan di masa depan dengan menggunakan instrumen keuangan masih belum menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia.

Selain itu, secara makro asuransi syariah memiliki peran yang cukup strategis sebagai sumber pendanaan pembangunan nasional. Iuran yang dibayarkan peserta asuransi syariah dapat digunakan untuk membiayai program-program pemerintah dalam pembangunan infrastruktur. Sumber pembiayaan pembangunan dari sektor asuransi syariah ini relatif longgar, mengingat investasi sektor asuransi syariah cenderung bersifat jangka panjang. Jadi, selaras dengan sifat kebutuhan pendanaan pembangunan infrastruktur yang juga bersifat jangka panjang.

Di luar kontribusi yang bersifat material, peran lain yang tidak kalah penting dari asuransi syariah adalah peran im-material, yaitu sebagai instrumen untuk membangun kohesi sosial antar masyarakat. Sebagaimana yang sudah menjadi pemahaman publik bahwa model asuransi syariah adalah risk sharing. Dengan model ini, terdapat kebersamaan dalam memberikan kontribusi berupa iuran dan terdapat kebersamaan dalam menanggung risiko yang mungkin terjadi pada peserta asuransi syariah. Kebersamaan merupakan elemen penting dalam menjaga harmoni sosial, sehingga dapat menjauhkan masyarakat dari sifat egois dan tidak memiliki kepedulian sosial.

Oleh: Nurul Huda

Pemerhati Keuangan Syariah

 

Artikel ini juga dapat diakses di AKU CINTA KEUANGAN SYARIAH

.

Postingan Terkait

.

Komentar

Detail Post

Tanggal Publish

19 January 2019 22:00WIB

Kategori

Opini