Dana Asing Keluar, Pasar Goyah

JAKARTA. Seperti sudah diduga, krisis valas dan utang Turki menggoyang pasar Indonesia. Kemarin, kurs rupiah menembus Rp 14.600 per dollarAS, level terlemah sejak Oktober 2015. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) punanjlok 3,55% ke level 5.861.

Pasar Indonesia memang kerap goyang bila terjadi krisis di negara lain, meski Indonesia memiliki punya hubungan dagang atau kerjasama dengan negara itu. Padahal, makro ekonomi cukup solid.

Kiswoyo Adi Joe, analis senior Narada Asset Management, takmelihat ada masalah pada fundamental Indonesia. Pasar domestik hanya terkena efek tak langsung.

Analis Panin Sekuritas William Hartanto menilai, pasar Indonesia gampang digoyang sentimen krisis negara lain lantaran pasar Indonesia masih didominasi pemodal asing. "Meski krisis di luar negeri tidak berhubungan langsung dengan Indonesia, tetap ada pengaruh. Sebab, asing panik," kata William, Senin (13/8). Kemarin, asing mencetak net sell Rp 646,88 miliar.

Jangan ikut panik

Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri juga melihat,keberadaan hot money jadi penyebab pasar domestik sulit meredam paparan global,seperti krisis Turki. Tapi, asing keluar bukan tanpa sebab. Dari domestiksejatinya masih ada kekhawatiran terkait defi sit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) yang melebar.

Di kuartal II-2018, CAD mencapai US$ 8 miliar atau 3,0% dari PDB, lebih besar dibanding kuartal I sebesar US$ 5,7 miliar atau 2,2% dari PDB. Kata Hans, defisit harus ditutup dengan portofolio yang masuk dari luar negeri. Dana asing biasanya masuk ke pasar saham dan obligasi.

Nah, di tengah krisis Turki, asing lebih waspada dengan memindahkan dananya dari emerging market ke negara maju. "Jadi, saat pasar global goyang, investor mengalihkan portofolio ke aset kurang berisiko. Ini yang menyebabkan rupiah dan IHSG tertekan," papar Hans.

Indeks dollar AS saat ini melesat cukup tinggi, karena investor memburu aset aman di tengah kecemasan krisis yang melanda Turki.

Lantaran fundamental masih bagus, William berharap, investor lokal tidak terpancing. "Saat pasar melemah, harus dilihat sebagi peluang. Bukan ikutan panik," ujar dia.

Menurut Hans, jika situasi sudah kembali normal, asing akan kembali masuk ke aset yang memberi return bagus. "Yang harus dipikirkan, yaitu menambah instrumen derivatif untuk membangun kedalaman pasar, sehingga tidak ada panic sell," saran dia.

Prediksi Hans, jika koreksi berlanjut hingga September,indeks bisa menyentuh 5.700. “Tapi, kami belum merevisi target 6.200,” imbuh dia.

 

Sumber: kontan.co.id

.

Postingan Terkait

.

Komentar

Detail Post

Tanggal Publish

14 August 2018 15:00WIB

Kategori

News