Royalti Buku Sekjen PBNU Disalurkan Ke LAZISNU

Jakarta, Sekretaris Jenderal PBNU A Helmy Faishal Zaini meluncur buku termutakhir Nasionalisme Kaum Sarungan, yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas. Peluncuran dibarengkan dengan diskusi buku di lantai 8 Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (19/7).
 
Dalam sambutannya Sekjen PBNU HA Helmy Faishal Zaini, menyampaikan buku Nasionalisme Kaum Sarungan merupakan kumpulan tulisannya yang dimuat di Harian Kompas. Ia pun mengatakan seluruh royalti dari penjualan buku tersebut disumbangkan melalui NU Care-LAZISNU.
 
“Terima kasih kepada Penerbit Buku Kompas. Dan, seluruh royalti dari penjualan buku ini akan disalurkan ke NU Care-LAZISNU. Jadi, yang membeli buku ini juga beramal di LAZISNU,” ujar Helmy.
 
Ia menegaskan langkah menyumbangkan royalti buku melalui NU Care-LAZISNU sebagai khidmat untuk Nahdlatul Ulama.
 
Lebih lanjut, dirinya menjelaskan, buku yang diberi kata pengantar oleh Guru Besar Australia National University, Greg Fealy, itu mengupas banyak hal tentang NU dan kebangsaan. Istilah 'kaum sarungan' sendiri menegaskan bahwa di Indonesia ada sekelompok masyarakat yang tetap teguh berpancasila, di tengah rongrongan paham transnasional dan cenderung radikal yang mengusik kehidupan berbangsa dan bernegara.
 
“Bahwa NU sejak dulu, pada Mukatamar tahun 1936 di Banjarmasin sudah merumuskan konsep bernegara, yang memunculkan dua pertanyaan penting yaitu bagaimana hukum melawan penjajah dan bagaimana konsep bernegara itu sendiri, yang antara lain diperkenalkan konsep Darul Islam, Darul Harb, dan Darussalam atau Nation State,” jelas Helmy.
 
Helmy juga mengatakan, bahwa pendiri NU Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari sudah menegaskan lewat adagiumnya yang masyhur, Hubbul Wathon minal Iman. “Membela Tanah Air adalah bagian dari iman. Atau dalam bahasanya Kiai Said, nasionalisme adalah perintah agama,” tegasnya.
 
Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengucapkan selamat kepada Helmy Faishal atas peluncuran buku tersebut. “Selamat. Hari ini adalah hari bahagia untuk Mas Helmy,” kata kiai asal Cirebon itu.
 
Dalam sambutannya, Kiai Said menyebut bahwa sarungan adalah simbol orang cerdas dan orang berakhlak. Kaum sarungan adalah orang-orang yang tawasuth (moderat).
 
Tawasuth merupakan prinsip yang dinamis. Sikap tawasuth membutuhkan kecerdasan. Imam Syafi'i, Imam Ghazali, Hasan Bashri, Hasratussyekh Hasyim Asy’ari, mereka tawasuth,” urai Pengasuh Pesantren Al-Tsaqofah Ciganjur, Jakarta Selatan itu.
 
Kedua, lanjut Kiai Said, tasamuh, sikap yang dimiliki kaum sarungan. “Toleran. Bukan hanya toleran, tapi berbuat baik membantu sesama manusia. Yang tidak boleh itu membantu orang kafir yang menyerang muslim. Kesimpulannya, orang sarungan itu orang yang cerdas dan berakhlak mulia karena tawasuth dan tasamuh,” pungkas kiai alumnus Univesitas Ummul Qura tersebut.
 
Usai sambutan Ketum PBNU, acara dilanjutkan dengan pembacaan salah satu esai yang termaktub dalam buku Nasionalisme Kaum Sarungan. Diskusi buku dimoderatori oleh Wakil Sekjen PBNU Masduki Baidlowi, dengan pemateri Greg Fealy dan Redaktur Pelaksana Harian Kompas Muhammad Bakir.
 
Pada kesempatan itu, juga dihadiahkan 50 buku Nasionalisme Kaum Sarungan secara gratis kepada para peserta. Turut hadir di antaranya Waketum PBNU dan Rektor Unusia Jakarta, Maksum Mahfoedz, Ketua PBNU Robikin Emhas, serta ketua-ketua lembaga di bawah PBNU.

 

Sumber: nu.or.id

.

Postingan Terkait

.

Komentar

Detail Post

Tanggal Publish

19 July 2018 22:30WIB

Kategori

News