Tumbilotohe, Tradisi Tua Gorontalo Menyambut Idul Fitri

GORONTALO. Selama tiga hari Aswin Heluma (44) mengelana masuk hutan untuk mencari damar, getah pohon. Ia kumpulkan getah yang sudah mengering di beberapa pohon dalam sebuah tas anyaman. Tidak mudah baginya, letak pohon berjauhan dan harus membersihkan semak-semak untuk dilalui.

Aswin Heluma, warga Tabongo Timur Kabupaten Gorontalo hanyalah orang kampung. Petani ini sedang menyiapkan Tohetutu, lampu tradisional yang akan dinyalakan 3 hari menjelang Idul Fitri. Menyalakan lampu ini adalah tradisi lama yang diperkirakan ada sejak Agama Islam masuk ke Gorontalo, sekitar abad XVI. Kebiasaan ini terus berlanjut hingga kini, bahkan setiap akhiran Ramadan jumlahnya mencapai jutaan lampu.

Tradisi ini disebut Tumbilotohe, malam pasang lampu. Aswin Heluma rela keluar masuk hutan untuk mencari getah ini agar dapat membuat tohetutu. Getah yang dikumpukan tadi kemudian dibungkus dengan daun woka kering, sejenis palem hutan. Baca juga: Tradisi Mohibadaa, Cara Warga Gorontalo Sehat Sepanjang Ramadhan Tohetutu yang sudah siap dinyalakan ini dijual dengan harga Rp 5.000 per buahnya. Nilai ini tidak sepadan dengan jerih payahnya mengumpulkan getah pohon di hutan.

Namun baginya, uang Rp 5.000 ini adalah berkah. Sebab ia dapat menjual 1 tas besar dalam beberapa hari di pasar tradisional sekitar Batudaa, Bongomeme, hingga ke Kota Gorontalo. “Saat dinyalakan baunya harum, beda dengan lampu minyak model sekarang,” kata Aswin Heluma. Sebagai orang desa, Aswin dan juga banyak warga di Tabongo, Batudaa, Bongomeme, dan Dungaliyo masih memburu getah pohon untuk dijadikan lampu tumbilotohe.

Warga Gorontalo meyakini lampu tohetutu adalah lampu asli yang dinyalakan orang Gorontalo masa lalu sebelum ada produk minyak. Getah pohon inilah yang dijadikan bahan bakar. Untuk membuat tohetutu ini, Aswin memerlukan lembaran daun woka muda yang sudah kering.

Seperti melinting tembakau, damar ini diisikan pada gulungan daun woka. Ia mengikatnya agar gulungan ini tetap rapat dan damar tidak mudah keluar. Bentuk lintingan damar dan woka ini disebut wango-wango, siap dinyalakan saat tumbilotohe. “Satu keluarga biasanya hanya menyalakan 2 tohetutu yang dipasang di alikusu, gerbang pagar,” jelas Aswin Heluma.

Saat getah kering ini menyala, aroma harum langsung tercium, apalagi saat dibawa angin. Semerbak wangi akan menyambut datangnya Idul Fitri. Suka cita warga sangat terasa saat malam–malam terakhir Ramadan. “Dari rumah ke hutan lumayan jauh, berangkat pagi sampai mendapatkan pohon tohetutu sekitar tengah hari,” kata Aswin Heluma.

Banyak ragam sejarah munculnya tumbilotohe. Menurut almarhum Medi Botutihe, tokoh adat Gorontalo yang bergelar tauwa lo Lingguwa, tradisi pasang lampu ini muncul saat masyarakat ramai-ramai mendistribusikan zakat fitrah 3 hari menjelang Idul Fitri.

Masa masa awal Islam di Gorontalo, kondisi alam yang berawa-rawa dan gelap gulita menyulitkan masyarakat membagi zakat usai salat tarawih. Untuk membantu pendistribusian ini warga kemudian memasang tohetutu di sekitar rumah mereka. Pendapat lain dikemukakan oleh AW Lihu, seorang baate (pemangku adat) dari Limboto yang bergelar Baate lo Limutu lo Loopo.

Tumbilotohe berawal dari kebiasaan raja yang mengumpulkan para kepala daerah bawahannya untuk membicarakan urusan menjelang Idul Fitri. “Para wulea lo lipu (kepala wilayah) dan taudaa (kepala kampung) datang ke istana pada malam hari, mereka membawa lampu penerangan. Saat tiba di istana raja, lampu-lampu tersebut diletakkan di depan sehingga membentuk rangkaian lampu yang menarik,” kata AW Lihu. AW Lihu yang juga maestro tradisi lisan Indonesia ini menceritakan, lampu pada waktu itu berupa wango-wango yang menyala dari pembakaran damar.

Seiring perkembangan zaman, minyak tanah kemudian dapat diperolah dengan mudah. Masyarakat Gorontalo kemudian memilih lampu tumbilotohe berbahan bakar minyak. Lampu lebih terang, praktis, bahan bakar pun mudah didapat. Di Era minyak tanah inilah kemudian tumbilotohe menjadi meriah dengan gemerlap lampu. Pedesaan yang senyap terasa hidup saat lampu tumbilotohe banyak dipasang. Suasana meriah semakin terasa.

Kemudahan membuat lampu botol berbahan minyak tanah ini kemudian menenggelamkan tohetutu, lampu tradisional ini kemedian dilupakan orang. Hanya warga yang tidak bisa membeli minyak tanah yang masih mempertahankan tohetutu dengan mencari getah di hutan. Di tengah semaraknya nyala lampu botol ini, tohetutu masih bisa dinikmati keharuman dan warna khas nyala apinya. Tohetutu tetap bisa dinikmati meskipun semakin hari nyalanya makin redup. Semarak lampu botol telah mengalahkan nyala getah pohon. Wango-wango hanya muncul di tempat tertentu, keharumannya belum tergantikan dengan jutaan nyala lampu minyak tanah.

Setiap keluarga Gorontalo menyalakan lampu botol di depan rumahnya, bahkan ada yang menempatkan di kebun dan pagar pinggir jalan. Kelap-kelip sinar lampu diterpa angin menambah keelokan malam akhir Ramadan. Jutaan warga Gorontalo dengan suka rela memasang lampu-lampu ini untuk menyambut datangnya Idul Fitri. Ini juga tanda kegembiraan warga telah menuntaskan puasa Ramadan. “Pesona jutaan lampu minyak ini hanya ada di Gorontalo, silakan datang untuk menyaksikan Tumbilotohe,” kata Nancy Lahay, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo.

Jadi atraksi wisata
Tidak tanggung-tanggung, Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo menggelontorkan ribuan liter untuk dibagikan ke daerah. Setiap lokasi yang ditunjuk mendapat 2 drum atau 400 liter minyak tanah, sementara di beberapa titik yang dianggap strategis seprti di dermaga Iluta, Isimu, Tabongo, Lapangan Ipot Tapa, bantaran Kanal Tamalate dan Jembatan Talumolo mendapat 3 drum minyak tanah, 5.000 lampu botol, dan alikusu. “Yang di beberapa titik ini dikelola bersama oleh organisasi pemerintah daerah,” kata Sastriwati Mangkarto, Kepala Bidang Promosi Pariwisata.

Keelokan gemulai api yang menyala diterpa angin ini menjadi daya tarik bagi semua warga, ini momen penting yang datang setahun sekali. Tidak heran kemudian pemerintah menjadikan malam pasang lampu ini sebagai atraksi wisata dalam kelender tahunan. Ini melengkapi rangkaian acara wisata tahunan pada bulan Ramadan-Syawal, Festival Beduk, Festival Ketupat dan pacuan kuda.

Untuk menyiapkan malam pasang lampu ini, kaum muda setiap dusun biasanya sudah memasang tonggak bambu di pinggir jalan sejak awal puasa. Pekerjaan ini dilakukan pada malam hari selepas salat tarawih. “Kalau bekerja siang kan menyita energi, apalagi kami semua menjalankan puasa,” kata Melki Amu, warga Bone Bolango. Di antara tiang bambu yang terpancang ini akan dipasang kawat bersusun, pada kawat inilah lampu botol ini akan digantungkan sepanjang jalan.

Tidak hanya itu, Sungai Bone dan Sungai Bolango yang membelah Kota Gorontalo tak luput dari pemasangan lampu ini. Sepanjang bantaran sungai akan ditempatkan lampu tumbilotohe. Juga Danau Limboto, sebagian pinggirnya akan dipercantik dengan lampu-lampu ini. “Kalau lampu tumbilotohe di tempatkan atas air memiliki keunggulan adanya refleksi, sehingga akan terlihat lebih semarak lagi,” kata Abdurahim Malahika, warga Suwawa.

Tidak jarang masyarakat sudah menyediakan lampu botol dan lokasi tumbilotohe namun minyak tanah sulit didapat. Masalah ini sudah menghantui kaum muda yang menginginkan kemeriahan tumbilotohe. Baca juga: Tradisi Warga Gorontalo: Mandi Rempah Menyambut Ramadhan Tidak adanya minyak tanah subsidi dan keterbatasan kuota untuk masyarakat membuat penyelenggara harus berfikir kreatif. Salah satu yang ditempuh adalah penggunaan minyak kelapa sebagai bahan bakar.

Tumbilotohe dengan minyak kelapa memang lebih bersih, tidak ada jelaga yang menghiasi lubang hidung. Namun harganya minyak ini tidak ekonomis. Masyarakat juga sudah terbiasa menggunakan minyak tanah. Kemeriahan jutaan lampu tumbilotohe menghias sepanjang wilayah Gorontalo, mulai dari perbatasan dengan Provinsi Sulawesi Utara di sisi timur hingga ke sisi barat yang berbatasan dengan Sulawesi Tengah.

Bahkan banyak desa di kedua provinsi tetangga ini yang berpenduduk Gorontalo atau terpengaruh budaya daerah ini, mereka juga menyalakan lampu. Berderet lampu akan menghias seluruh perkampungan di lengan utara Pulau Sulawesi ini. Pesona lampu di malam yang syahdu bisa dirasakan di desa-desa, sementara kemeriahan lampu lainnya disesaki warga di perkotaan. Tumbilotohe adalah magnit bagi siapapun yang menyaksikan, gemerlapnya dan nilai tradisinya.

Sumber: KOMPAS.com

.

Postingan Terkait

.

Komentar

Detail Post

Tanggal Publish

13 June 2018 08:30WIB

Kategori

News